InsyaAllah, You're My Future. ♥️


Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan dari dirinya. Yang selalu menjadi candu bagiku untuk terus tertawa dan tersenyum tanpa melihat sisi buruk yang dia punya. Entah mengapa hatiku sungguh sesak karena aku terlalu memikirkannya. Hatiku seraya ingin memberontak melampiaskan protesnya tidak terima.
Ya, kecewa.
Hatiku sangat kecewa.
Semua janji yang dibuat olehnya saat kita pertama kali untuk sepakat berkomitmen tidak untuk berpacaran, mempercayai bahwa kita sanggup untuk bisa saling menjaga perasaan cinta dan sayang, bahkan selalu mengingatkan untuk tidak memutuskan komunikasi yang sangat penting bagi suatu hubungan. Dia mengingkari semuanya. Aku tidak tahu apa maksud dari perbuatan dia yang seperti saat ini selain pengakuan dia yang dibuat dengan penuh penekanan pada saat itu. Dia mengatakan bahwa dia merasa bosan, tidak nyaman lagi denganku. Aku tidak menyangka dalam waktu 3 detik kalimat darinya membuatku terus menerus meneteskan air mata.
Berhari-hari setelah mengetahui pengakuan darinya membuat aku selalu murung, tidak banyak tertawa seperti bukan aku yang aslinya. Ya, itu adalah aku yang lain. Aku tidak mengerti lagi harus berkata bagaimana, harus mencegah seperti apa dan mengingatkannya akan janji yang dia buat dulu. Tetapi, rasanya akan mustahil jika aku melakukan semuanya. Dia adalah orang yang penuh dengan banyak penekanan. Bahkan kalau pada saat itu aku berani mencegahnya serta menjelaskan untuk mengingatkan dia kembali tentang janjinya, aku pasti sangat dibenci oleh dirinya. Karena dia sangat merasa enggan untuk suka ketika aku tidak mengikuti perkataannya. Aku bukan babu atau pelayan untuknya, tetapi karena aku sayang dan tidak ingin kehilangan dirinya aku selalu berusaha untuk mengikuti semua kemauannya. Bahkan sampai keputusan yang paling menyakitkan itu datang, aku masih bisa untuk mengikuti kemauannya walaupun dihatiku yang paling dalam menjerit sangat tega untuk menilai dirinya sebagai lelaki pengkhianat.
Jelas pengkhianat.
Aku membenci orang yang suka mengingkari janji. Tetapi aku tahan, karena aku belajar darinya. Aku tidak sepenuhnya membenci dia, aku hanya tidak bisa untuk menerima maaf dan ucapan terimakasih yang dia lontarkan untuk janji yang tidak bisa dia tepati. Pada saat itu aku tidak peduli Tuhan marah, sebab ego ku yang terlalu tinggi terus menerus menyalahkan takdir Tuhan yang telah mengubah semua apa yang sudah ku lewatkan bersamanya dengan akhir yang sama sekali tidak ku suka. Lantas, ketika aku mengambil air wudhu untuk membuang jauh-jauh pikiranku itu aku merasakan bisikannya dia datang, yang selalu menyuruhku melakukan hal ini ketika aku merasa tidak tenang. Dan, aku menangis kembali.

Sekarang, aku merasakan baik pada diriku. Masih berusaha untuk mewujudkan permintaannya dia "Ada dan tiadanya aku, kamu pasti bisa bahagia". Dia benar. Bahkan dia sangat melarang aku untuk tidak menangis karena dirinya. Bukan salahku, jujur itu memang bukan kesalahanku. Aku tidak bermaksud untuk melanggar permintaannya. Tetapi air mata itu jatuh dengan sendirinya, aku tidak bisa untuk menyuruhnya berhenti. Dan setelah itu aku membenci kantong mataku yang membesar dan kelihatan bengkak. Aku benci itu.

Ingatan ku terputar kembali akan kalimat,
"Percayalah! Keluarga itu penting, Elma"
Ya, sekali lagi dia benar. Aku merasa bersalah karena sudah merasa egois untuk terus meminta menjadi prioritasnya. Aku melupakan keluarganya dan keluargaku sendiri. Dia benar-benar menyadarkanku ketika ku selalu mengingat kalimat itu.
Sekarang, entah kenapa aku tidak terlalu khawatir untuk dirinya pergi dari hidupku. Bukannya aku sudah melupakan, tetapi karena aku yakin dia akan kembali menepati semua janjinya. Tidak peduli dia mengatakan bahwa dia tidak bisa bersama lagi denganku. Sebab, dia pernah berkata "Takdir tidak ada yang tahu kan". Dan aku akan tetap mempercayai keyakinan aku untuk berusaha menunggu dia kembali.
Aku tidak menghujat diriku karena aku akan menutup hati untuk kedepannya dan masih menyimpan harapan untuk bisa bersamanya lagi. Aku merasa senang karena aku bisa mulai tenang untuk mengatur diriku yang tanpanya ada disisiku. Dan aku selalu mendo'akannya dalam sujudku. Usahanya selama ini untuk membahagiakan ayah ibunya aku yakin dia akan berhasil. Aku percaya dia bisa. Walaupun dia menemukan kegagalan, dia pasti tidak putus semangat tanpa adanya aku disisinya. Cukup dia melihat kembali orang-orang yang ingin dibahagiakan oleh dirinya seperti ayah, ibu, adiknya, serta masa depannya, dia pasti akan terus berusaha.

Dulu aku pernah bilang, "Asal kamu tahu aja. Aku tidak menunggumu sukses lalu aku bersamamu. Tapi bersamamu hingga kamu sukses dan mempertahankannya, itu yang aku mau". Dan apa yang pernah aku katakan padanya akan kalimat-kalimat itu, sungguh aku merasa senang karena dia memahami kalimat-kalimat yang tidak seberapa namun berarti bagi kita berdua. Tapi tak apa jika sekarang aku hanya berjuang sendiri untuk ‘cinta’. Aku tahu pikiran dan perasaannya sedang tidak sinkron. Pasti dua hal yang berbeda itu saling bertabrakan karena aku sekarang yakin, dia meninggalkanku karena ada hal yang harus dirinya raih dahulu sebelum kembali kepadaku.
Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Karena aku pun yakin, jika Tuhan tidak berpihak padaku hari ini pasti Tuhan akan berpihak padaku dihari yang sudah ditakdirkan untuk kita bersama kembali. ♥️


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjawab Oleh Takdir

FF Raindrops Keep Falling on Rival Head