FF Raindrops Keep Falling on Rival Head

Cast :
  1. Yuki Kuran
  2. Kuroko Tetsuya
  3. Zero Kiryu
  4. Shun Izuki
Other Casts : Member Kuroko no Basuke

Genre : Magic, Vampire, Romance, Friendship

Lenght : OneShoot

Author : Elma Yufita

          Suasana malam yang begitu dingin dengan derasnya hujan yang melanda kota Kyoto dalam gelap. Angin yang berhembus kencang mengintai setiap sudut rumah dan berusaha memasuki dengan paksa, hingga sang pemilik tersentak.
“BRAAAKKKKK..” pintu asrama dari tim basket Seirin terjatuh.
“Ada apa ini? Kenapa hujan angin malam ini kencang sekali?” Tetsuya melangkah mendekati pintu, tetapi rencananya buyar sebelum sampai tujuan setelah melihat sosok pria dibalik pohon depan asrama dengan mengenakan blazer vampire dan menghilang dengan kasat mata. “Siapa dia?”
         Pagi datang, suara burung-burung kecil yang berterbangan membawa aroma damai bagi warga Kyoto tersendiri, dan suasana sejuk yang dilengkapi oleh bunga sakura yang indah dan memanjakan setiap orang yang melihatnya.
“Haa..” hembusan nafas yang keluar dari bibir sang kapten basket Seirin High, merupakan tim basket SMA Seirin di Tokyo. Bangun dari tempat tidurnya, dan menuruni anak tangga dengan wajah kusam. “Mengapa disini sepi sekali? Kiyoshi? Kau dimana?” tangan sang kapten menggeledah lemari ruang tengah asrama, berusaha mencari kawan sejatinya (Teppei Kiyoshi). Wajah sang kapten tertekuk setelah mencari Kiyoshi di semua lemari *ini sebenarnya author yang baka atau kapten yg bodoh? xD
Terlihat jelas raut wajah kapten yang kesal, tidak mengetahui keberadaan Kiyoshi yang biasanya selalu membangunkan dan menyuruhnya mandi, tetapi hari ini berbeda. Kapten berjalan menuju pintu halaman depan rumah, terlihat terlebih dahulu hanya ruang tamu asrama yang kosong tanpa penghuni. Segera menuju pintu, dan membukanya paksa.
“BUUUGGGGHHHHH..” badan sang kapten terhempas bersamaan pintu yang melayang jatuh ke lantai.
“Astagaaa, kapten Hyuga!! Kau tidak apa2?” Rinnosuke segera membantu kapten yang bernama lengkap Junpei Hyuga. “Siaalll, kenapa kau tidak pakai kacamata mu? Kau bahkan tidak bisa melihat kalau ini pintu tidak ada engselnya” wajah datar  Rinnosuke membuat Kiyoshi, Hiroshi, Kawahara, Furihata, Kagami, Sitoshi, Shinji dan Izhuki tertawa tak tahan melihatnya, apalagi kapten yang begitu gagah ketika latihan sekarang dengan adanya kejadian yang hanya kecelakaan kecil ia memasang mata yg berkaca2. Di lain tempat, berbeda dengan Tetsuya yang hanya memandangi tanah dibalik pohon sakura yang besar. Pikirannya masih terpaku oleh sosok yang datang waktu malam. ‘Mungkin penyebab pintu asrama rusak karena dia’ pikir Tetsuya. Masih tetap mengamati tanah yang tidak berjejak sedikitpun karena hujan deras yang turun malam itu.
“Ohayouu?? Ahh kalian semua kenapa berkumpul disini? Wahaha, ada apa dengan kapten Hyuga?? Itu kenapa pintu sampai terjatuh begitu?” Riko Aida sang pelatih datang ke asrama dengan pakaian yang rapih.
“Wahaha, Aida-chan datang” Furihata yang sebelumnya menyabuti rumput sempat berhenti ketika melihat benda yang berada di tangan Riko Aida.
“Onoo- apa hari ini ada kelas?” Sitoshi berlari mendekati Aida, dan berusaha menggeledah semua yang dibawa Aida. “Wahh, kau rajin sekali” Kawahara yang melihat ekspresi Sitoshi tertawa lepas. “Hahaha, tidak seperti mu. Mengerjakan tugas malam, paginya membersihkan tempat belajar semua tugas kau buang setelah kau bilang ‘catatan apa ini?’ padahal itu catatan mu semalam hahaha” Kawahara tertawa sangat keras dan membuat dirinya terguling2 di lantai. “Seperti bayi” ucapan sinis yg keluar dari bibir Kagami.
“Haha, iya ada kelas. Kita akan berangkat setelah aku mengetahui keadaan kalian. Ey, kalian belum menjawab pertanyaan ku tentang si kapten tadi” Aida mulai kesal melihat tingkah laku anak ajarnya yang mayoritasnya kekurangan gizi kepintaran, hihi.
“Ahh lupakan” Hyuga mejawab paksa dengan malas.
“Tadi malam ada hujan badai. Pintu itu rusak karena badai itu, dan kita semua lupa memberitahu kapten tentang semalam. Dia yang paling awal tidur” Kiyoshi menjelaskan.
“Bagaimana kalian tidur? Sedangkan pintu terbuka” Aida merasa cemas.
“Tidak juga, Tetsuya yang mengetahuinya. Karena dia suka menyendiri di ruang tamu ketika malam. Dan dia juga yang memasangnya kembali” Shinji tetap pada tempatnya berdiri dan memainkan handuk di kepalanya. “Tetapi dia payah, dia main menempelkannya tanpa engsel pintu dan membuat kapten terjatuh” Izhuki langsung masuk ke dalam tanpa pamit.
“Ada apa dengannya?” Kagami yang sedang makan ramen membuatnya memberhentikan mie-nya yang masih bergelantungan di bibirnya.
“Aishh, benar juga. Lagian kita ini keluar melewati atap rumah, suruh siapa asrama tidak memiliki pintu belakang atau samping _-“ gumam Hiroshi begitu kesal ketika menyadari bahwa dirinya telah melakukan hal yang konyol hari ini.
 “Yasudahlah, mari kita berangkat” Aida balik badan dan berjalan ke arah jalan raya yang sepi.
“HAHH????” bingung dari semuanya.
Krataaakkkk-
           Aida dan tim Seirin segera bergegas ke stasiun Kyoto menuju stasiun Tokyo selama 5 jam 53 menit dalam perjalanan kereta. Setelahnya sampai disana, mereka turun dan menaiki bis menuju sekolah.
          Berbincang-bincang dan tertawa lepas yang mereka lakukan setiap hari tanpa mengenal lelah. Lain dengan halnya dua sejoli Tetsuya dan Izhuki, yang memiliki kriteria yang sama. Dingin.
          Sesampainya, memasuki kawasan sekolah yang begitu indah diperlihatkanlah daun-daun yang berjatuhan di musim gugur tahun ini yang memenuhi setiap jalan. Tidak aneh jika banyak yang memiliki kesempatan bagi para pasangan untuk melakukan hunting seperti cinta di musim gugur. Dan membuat rombongan burung gelatik yang tengah mematuk-matuk remah roti di hamparan rumput taman sekolah gembira.
          Sirine bel pun berbunyi menandakan jam pelajaran akan dimulai. Pipi Tetsuya menggelembung seperti kodok yang bersiap ingin mengeluarkan dengking terkerasnya ‘benar-benar menjengkelkan’ ucapnya dalam hati.
Melihat wajah Tetsuya yang ditimpa cahaya matahari. Begitu terang untuk tidak menyebutnya terlihat ganjil. Wajah itu seperti sedang kesal. Tetsuya pelan menoleh kepadanya, menyadari ada seseorang yang memperhatikan sejak satu menit lalu. Bersitatap satu sama lain, “Bagaimana liburan musim dingin mu?” sosok wanita yang memakai seragam Night Class mendekati Tetsuya perlahan.
“Ah, ano.. Sangat menyenangkan” ucap Tetsuya gugup.
Izhuki yang melihatnya sangat kesal. Musnah sudah keinginan dirinya meluapkan kemarahannya. Besok. Ia bisa melakukannya besok. Tidak hari ini. Ini tidak akan memaksakan diri. Situasinya tidak tepat. Waktunya keliru.
          Seluruh siswa memasuki kelasnya masing-masing, berbeda dengan Tetsuyta yang masih berbincang-bincang dengan salah satu wanita loli dari Night Class. Tidak sadar dan tidak menyadari bahwa dia di tinggal oleh timnya, yang mengetahui mereka berdua hanya Izhuki. Hanya dia seorang. Dan hanya dia yang merasakan panasnya rebusan kepiting yang ada didalam hatinya dan perasaannya.
“Oh iya, selesai pelajaran aku ada latihan. Apa kau ingin menontonnya?” ajak Tetsuya.
“Lawan dengan tim?” penasaran wanita manis yang selalu hadir di setiap tim Seirin tanding, bahkan latihan pun dia hadir walau suasana hujan sekalipun bahkan beberapa kali. Wanita itu bernama Yuki Kuran, dikenal dengan kecantikan wajahnya, dan keanggunannya berbicara. Mampu memikat semua pria yang melihatnya, termasuk Tetsuya dan Izhuki. Alasan inilah yang membuat Izhuki membencinya dan menyimpan dendam kepadanya, Tetsuya.
“Rakuzan..” jawab dingin Tetsuya membuat suasana menjadi hening.
“Wow, itu bagus sekali. Aku akan datang, dan ingin melihat Akashi memasukkan bola ke ring” ucap ceria Yuki, membuyarkan semua lamunan Tetsuya dan memikirkan ‘apa dia menyukai Akashi?’
          Tiba-tiba, hujan badai turun lagi. Hujan yang sama pada waktu malam. Perasaan aneh muncul dalam pikiran Tetsuya. Melihat-lihat sekeliling dengan secepat kilat, nihil yg didapatkan. Berpikir sosok semalam muncul lagi.
“Oy Tetsuyaaaa, cepat kemari. Kau akan diam disitu hujan-hujanan dan besok kau akan berbaring tertutup selimut begitu?” teriak kapten Hyuga yang melihat Tetsuya masih berdiam diri di taman dengan wanita Night Class tersebut. Tetsuya pun hanya menoleh, dan tidak menanggapi perintah kaptennya.
Wusshhhhh- Angin iblis datang menyelinap diantara mereka
“Yuki-chan, apa kau tidak pulang?” tanya pria yang tiba-tiba saja berdiri di samping Tetsuya.
“Ahh iya, aku akan kesini lagi siang nanti. Sampai jumpa” ucap Yuki kepada Tetsuya dan tersenyum. Pria tersebut menjulurkan tangannya, dan segera Yuki menggapainya dan menggenggamnya.
“Apa yg aku lihat? Pria itu?” Tetsuya masih berdiam diri tanpa ekspresi. Menatap Yuki berpegangan tangan dengan pria itu dari balakang, seperti sedang melihat sebuah pertunjukkan drama atau ini hanya mimpi. Plaakkk!!! Tidak. Ini sangat nyata. Yang Tetsuya tahu, ada sisi misterius dari wajah pria yang bersama Yuki. Kenapa hujan tiba-tiba berhenti setelah mereka pergi? Dan kenapa hujan datang ketika pria tersebut muncul?

          Sirine bel pulang berbunyi dengan keras. Semua siswa bergegas pulang, kecuali dengan tim basket Seirin dari Day Class dan tim basket Rakuzan dari Cloud Class. Semua tim menuju lapangan basket berlawanan arah karena kelas yang berbeda.
“Izhuki kemana??” tanya Shinji yg berjalan terbelakang karena merasa anggotanya kurang satu.
“Mungkin menemui gadis Night Class itu” ucap Sitoshi dan melanjutkan memakan snack ringan ditangannya yang dibelinya sebelum bel pulang berlangsung di kantin. Membolos jam pelajaran, itulah hobinya.
          Hujan badai tiba lagi dengan mengejutkan, ketika tim Seirin dan Rakuzan akan bertanding. Semua bingung terhadap cuaca belakangan ini, tidak biasanya Jepang dilanda hujan yang tidak beraturan. Hal yang aneh telah melanda dalam benak Tetsuya. Tidak. Mereka tidak merasakanannya. Lagi dan lagi Tetsuya melihat pria yang bersama Yuki pagi ini, tepat di pintu masuk stadion basket.
“Aku tidak bisa mengikuti latihan hari ini. Kalian pulang saja setelah semuanya selesai, aku akan menyusul” Tetsuya yang belum sama sekali duduk seperti yang lain, ia segera mengambil tasnya kembali lantas pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Rasa khawatir sang kapten muncul dan berkata “Kau kenapa? Tidak biasanya kau tidak semangat begini. Ada masalah? Ceritakanlah. Kami akan mendengarkannya dengan baik. Dan kami akan membantu mu semampu yg kami bisa lalu...” kapten Hyuga yang mendadak berdiri tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk melawan Rakuzan, tanpa sang pemilik mata kemenangan.
“Lupakan! Biarkanlah ia pergi” Aida menyanggahi ucapan Hyuga, seperti dia mengetahui apa yang mengusik ketenangan Tetsuya saat ini.
“Apa ini akan dilanjutkan?” suara yang datang dari arah kursi penonton membuyarkan lamunan semuanya yang melihat arah Tetsuya pergi.
“Izhuki? Kau darimana saja? Kau baik kan? Tidak seperti tuh Kuroko-chan si canggung” Kagami yang terlihat kesal dan bosan melihat kelakuan Tetsuya yang tidak sama sekali melakukan perubahan dalam tiap harinya.
“A..a..aku? Aku ditinggal oleh kalian. Aku mengikuti kalian dari belakang” Izhuki gugup menjawab, ada yang aneh dengan tingkah lakunya hari ini. Seperti sejak tadi pagi, dia sama sekali tidak bergabung dengan tim Seirin dan yang lain.

          Tetsuya kembali berjalan ke arah pintu masuk stadion basket yang sebelumnya ia lewati, entah apa yang ia pikirkan tapi ini sangat mengganggu baginya. Sosok pria misterius yang entah kesalahan apa yang telah Tetsuya lakukan sebelumnya kepadanya. Bersitatap satu sama lain dan meliahat pria itu berdiri dengan kaki jenjangnya yang tinggi dan menyilangkan kedua lengan di depan dada bidangnya. Tajam. Tatapan tajam yang Tetsuya dapatkan. Perasaan hambar ketika melihat pria itu tersenyum sinis padanya. Langkah dalam hitungan pun dimulai. Berhenti menjejajakan kaki langkah terakhir Tetsuya bersampingan dengan pria misterius yang ia curigakan.
“Kau, siapa kau sebenarnya?” Tetsuya yang memulai berbicara dan membelakangi wajah pria misterius yang mengenakan seragam Night Class.
KRATAAAKKKKKK!!!!!
       Petir menyambar dengan keras, ketika pria tersebut menatap Tetsuya dari samping. Wajah yang halus. Itu yang di lihatnya saat ini. Tanpa ekspresi atau mimik muka seperti kebiasaan anak basket kebanyakannya.
Pria tersebut tersenyum sinis dan memperlihatkan gigi taringnya yang panjang dan tajam. Dengan begitu, Tetsuya merasakan tatapan tersebut dan merasakan bahwa dirinya terasa sedang diremehkan. ‘Taring?’ DEG!! Apa yang akan dilakukan Tetsuya setelah mengetahuinya bahwa sosok pria misterius dari salah satu siswa Night Class adalah Vampir?
“Kenapa kau mengikuti ku? Dan kenapa kau bisa dekat dengan Yuki?” ucapan tegas yang keluar dari bibir Tetsuya dengan gemas, masih tetap tidak menoleh pada pria disampingnya yang hanya menyisakan jarak 5 senti saja
“Yuki adalah makanan ku!”
“Sialan!!!” Tetsuya memberanikan diri untuk menoleh kearahnya, tetapii.. Nihil yang di dapat.
“Kemana dia?” aneh Tetsuya ketika melihat sekitar tidak ada sosok pria misterius yang sebelumnya tepat disamping kanannya.
Pikiran Tetsuya mulai kacau. Apa yang ingin dilakukannya untuk bisa mengetahui siapa pria tersebut. Satu-satunya jalan, yaitu menanyakan kepada ketua kelas Night Class, yang mengetahui latar belakang dari semua murid yang dibinanya. Kaname Kuran.
Tetsuya berjalan ke kelas Bulan (Moon Class), dimana Kaname Kuran berada. Dia tidak mengetahui bahwa Kaname-sama sendiri adalah seorang vampir. Dan begitu terkejutnya setelah mencapai di depan gerbang Moon Class yang besar dan terdiam diri menatapi gedung Moon Class, desain bangunan jaman dahulu pesis seperti bangunan tua yang unik penuh ukiran yang cantik mampu merubah seseorang yang melihatnya tidak menyeramkan.
Tetsuya memberanikan diri untuk membuka pintu gerbang yang lebih besar dari gerbang bangsawan. Lalu menginjak lantai yang terbentang luas. Melihat sekeliling sepi tanpa penghuni. Tetsuya menggapai pegangan pintu dan membukanya perlahan. Ia tahu, Moon Class dan Night Class akan ramai dan memulai jam pelajaran ketika malam. Tapi ia tahu juga, ketua dari kedua kelas tersebut akan selalu ada di kelasnya sendiri, berbeda dengan Yuki yang setelah pelajaran selesai kembali ke asrama.
Tetsuya melangkah kedalam ruangan yang sangat megah dan besar. Muncul bunyi lipatan buku yang sedang dibaca.
“Ada apa kau kemari, Kuroko-chan?” tanya pria berambut hitam kecokelatan sedikit panjang, lurus dan mata yang merah. Yang tidak wajar dimiliki bagi seorang manusia. Mungkin itu faktor keturunan atau atas dasar operasi, pikir Tetsuya.
“Ano, Kaname-senpai. Aku ingin bertanya mengenai seorang pria yang dekat dengan Yuki-chan siswi Night Class” Tetsuya langsung saja berbicara dengan semangat, tetapi ia merasakan takut akan ketampanan Kanam-senpai dihadapannya.
“Zero.. Kiryuu.. Dia orangnya” Kaname menutup bukunya lantas menatap Tetsuya yang sepertinya ingin tahu banyak pertanyaan apa yang menakjubkan selanjutnya.
“Siapa dia sebenarnya?” tegas Tetsuya menatap balik tatapan Kaname-sama.
“Apa hujan selalu datang belakangan ini?” tanya Kaname yang menanggapi serius pertanyaan dari Kuroko-chan.
“Ya, dan dia pasti datang” Tetsuya menunduk lemas merasakan badan terasa lemah, apa energinya diserap oleh Kaname yang hanya dia seorang yang menatapnya. Apa vampir generasi keajaiban mengubah asupan makanannya hanya dengan menatap mata seseorang. Perih. Itu yang dirasakan Tetsuya saat ini.
“Ah iya maaf, kau boleh duduk. Aku akan menceritakan sedikit tentang Zero yang ku ketahui. Tunggu sebentar” Kaname pergi menyimpan buku di lemari perpustakaan kelas, sepertinya Kaname mengetahui apa yang telah diarasakan Tetsuya ketika Tetsuya memegang keningnya yang terasa sakit.

Malam yang damai penuh kabut dingin menyelimuti diseluruh ruas jalan. Terlihat seseorang diatap asrama Seirin yang sepertinya sedang bingung memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Lebihnya lagi memikirkan dan membayangkan semua yang ketua Night Class katakan siang hari ini padanya, Tetsuya. Bagaimana jika ia melakukan semua saran dari Kaname-senpai? Dan apa yang akan terjadi setelah ia melakukannya?
“Apa hidup ku benar-benar akan berakhir?” Tetsuya melihat dengat lekat sebuah benda yang ia dapatkan dari Kaname-senpai di telapak tangannya.
Tiba-tiba saja Izhuki datang, berdiri di samping Tetsuya dan berkata “Apa hubungan mu dengan Yuki?”. Dengan kagetnya Tetsuya yang mendengar pertanyaan yang membuat ia canggung, dan menyimpan benda tersebut di saku celananya, lantas ia pun berdiri dan “Tenang saja, kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Kau jangan khawatir kan ini.” Tetsuya berdiri dan tersenyum layaknya kakak adik yang sangat akrab/
“Aku tidak akan merebutnya dari mu, dan..”
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi jika kau gagal!”
Izhuki menyanggah ucapan Tetsuya, dan menatap tajam mata birunya, membuat Tetsuya menjadi takut untuk melakukan saran dari Kaname-senpai. “Tidak akan terjadi, percayalah” Tetsuya tersenyum manis dan berniat untuk meyakinkan ‘maafkan aku Yuki-chan, aku harus menolong mu dan membahagiakan teman ku’ lirih hati kecil Tetsuya, menundukkan kepala dan ini terlalu rumit jika ia yang menjalankan sendiri. Tapi inilah adanya, takdir memang sangat menakjubkan.

     Ke esokan harinya, Izhuki meninggalkan teman-temannya dan berniat untuk menemui Yuki di suatu tempat yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin akan sulit untuk ia ungkapkan. Cinta segitiga tidaklah mudah untuk di jabarkan bukan? Melainkan harus ada yang rela gugur dalam pertarungan untuk siapa yang menempati tempat pemenang hati.
“Apa yang ingin kau sampaikan?” wanita dengan pakaian musim gugur yang sangat manis sekali berwarna pink merona bercampur dengan biru shappire yang sangat menyenangkan unuk dipandang oleh siapa saja yang melihatnya, kini tengah berjalan menyusuri area taman dengan Izhuki, seorang yang sangat ingin mendapatkan sosok wanita yang sekarang berada disampingnya, ingin memiliki sepenuhnya. Yuki adalah impian hidupnya.
“Umm, bagaimana jika kita duduk di kursi itu? Tamannya sungguh indah bukan jika kita menatap dari situ?” dengan semangatnya, Izhuki tanpa sadar menarik tangan Yuki dan mengantarkan ia ke kursi yang ditunjuk sebelumnya. Dengan pancaran air mancur dan sungai kecil yang indah, terlihat jelas sasuatu yang tersembunyi di dalamnya.
“Aku akan segera kembali, bisakah kau tunggu disini sebentar untuk ku?” tanya Izhuki hanya ingin memastikan bahwa ia memang dapat dipercaya olehnya. Dengan balasan senyum dari Yuki, itu udah lebih dari cukup untuk Izhuki menganggapnya itu adalah ‘baiklah’. Lantas, Izhuki meninggalkan Yuki sendiri, dengan tujuan ingin mengambil sesuatu yang lebih berharga dari rencana itu sendiri.
Hujan turun kembali dengan derasnya, membasahi seluruh insan yang tidak mengerti apa arti ini semua. Tetsuya yang masih berdiam diri di atap asramanya langsung saja terkejut dan lari menuju kamarnya. Mengambil secarik kertas dan bulpoin untuk menuliskan sesuatu. Lalu, disimpanlah kertas itu ke suatu benda yang ia dapatkan dari Kaname-senpai. ‘Akankah ini saatnya?’ ragu dan rasa takut bercampur khawatir pun membayangi seluruh tubuh Tetsuya.
Tetsuya bergegas lari mencari tau dimana lokasinya dari suara petir yang terdengar jelas hanya ditelinga Tetsuya. Taman. Iya taman. ‘Izhuki? Tidak, aku harus cepat!’ hati kecil Tetsuya menangis untuk tidak membayangkannya. ‘Tuhan, ku mohon hentikan waktunya’. Tetsuya berlari dengan sekencang-kencangnya, menghiraukan semua orang yang melihatnya dan mengabaikan seluruh pembicaraannya. Yang terpenting ia sampai dengan waktu yang tepat, tidak terlambat sedikit pun.
         Ketika Tetsuya menjejakkan kakinya di taman, ia mendengar suara gertakan petir dengan jelas. Dan jelasnya lagi ia tengah melihat Yuki yang sedang duduk dengan tenang walaupun hujan deras membasahi seluruh tubuhnya. ‘Apa yang dia lakukan? Dia baik-baik saja?’ senyum simpul Tetsuya melihat Yuki yang hanya menatap air mancur taman dengan senyum manisnya. Tetsuya menghampiri Yuki langkah demi langkah, tidak ingin mengacaukan apa rencananya hari ini. Tetapi angin dengan kencangnya berhembus melewati Tetsuya dan sosok pria vampir itu muncul kembali tepat di belakang Yuki.
“Ia memiliki dendam kepada ayahnya yang telah membunuh orang tuanya, dan ia ingin membalaskan dendamnya untuk memangsa putri dari keturunan darah murni. Itu sebabnya ia benci dengan seluruh pria yang siapa saja berani dekat dengan mangsanya. Satu-satunya cara adalah kau harus melakukan...” ucapan Kaname-senpai membuat Tetsuya semakin murka ingin melakukannya. Ia berlari menghampiri Yuki. Tidak! Zero sosok vampir tersebut lebih dulu menghampiri Yuki, dan memeluk Yuki dari belakang. Ini tidak akan dibiarkan!
    Tetsuya segera menyingkirkan tangan Zero memeluk Yuki dari depan dan memegang kepalanya dengan erat seperti tidak ingin dilepas untuk selamanya, hingga kini membuat wajahnya bertatapan dengan Zero. Menyeramkan!
“A..pa yang kau lakukan, Kuroko-chan?” bingung Yuki, yang tidak mengetahui Zero temannya ada dibelakangnya.
“Tetaplah seperti ini” bisik Tetsuya. “Dan kau!!! Menyingkirlah dari hadapanku, Izhuki dan Yuki!!!” Tetsuya menatap mata tajam Zero, dan itu membuat matanya sangat sakit dan membuatnya semakin lemah. Zero memperlihatkan taringnya dihadapan Tetsuya, dan terlihat jelas simbol penakluk darah murni yang berada dilehernya.
“Lakukan saja apa yang aku katakan, jika kau ingin berkorban dan mengakhirinya” ucapan Kaname terdengar kembali.
‘Inikah saatnya? Bagaimana jika ini gagal?’ bimbang Tetsuya. Dengan tangkasnya Tetsuya menarik tengkuk Zero dengan tangan kirinya dan langsung ia menggigit leher Zero dan menghisap darahnya. Membuat darahnya mengalir hingga turun ke leher Yuki.
“Da..rah??? Zero???” mata Yuki berbinar tak kuasa menahan air mata hingga pada akhirnya menetes aliran demi aliran.
“Akkhhhh...” teriak Zero, dan tubuhnya mulai hilang dengan samar-samar diserap cahaya matahari yang muncul kembali bersamaan dengan hujan yang turun.
         Izhuki datang dengan membawa bunga dan cokelat ditangannya dan menjatuhkan semuanya begitu saja. “Apa yang telah terjadi?” Izhuki berlari ke arah kejadian, melihat Tetsuya yang sedang menghisap darah seseorang dan Yuki yang menangis didalam dekapan Tetsuya.
Wuussshhhh...
       Tubuh Tetsuya jatuh dan tak berdaya dipelukan Yuki. Dengan cepatnya Izhuki memindahkan Tetsuya dan mendudukkannya di sandaran dada bidang Izhuki sendiri. Melihat Yuki yang menangis keras membuat Tetsuya tertawa kecil.
“Kalian selamat. Berhentilah menangis, gadis cengeng” canda Tetsuya disela nafas yang susah keluar ia hembuskan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” panik Izhuki.
“Tidak perlu kau khawatirkan. Kau sudah menemukan jawabannya kawan. Bersenang-senanglah” tanpa sadar Izhuki meneteskan air mata melihat mata Tetsuya yang perlahan mulai menutup dan denyut nadinya berhenti.
“Tetsuyaaaa” jerit Izhuki di tengah tangisannya.

          Bunga sakura berjatuhan bersamaan dengan pemakaman Tetsuya sang pelimilik mata kemenangan. Tim Seirin sungguh sangat terpukul atas kepergian sosok yang sangat dibanggakan. Kejadian luar biasa telah ia lewati sendiri dan kemampuannya memang ia sanggup melakukannya walaupun nyawanya yang ia korbankan.
        Selesai pemakaman Tetsuya, semua yang hadir meninggalkan tempat tetapi hanya tersisa Izhuki dan Yuki yang masih sangat terpukul akan kejadian kemarin yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Izhuki mengingat sesuatu, ia mengeluarkan apa yang ia dapatkan dari Tetsuya sebelum ia menutup matanya untuk selamanya.
       Dibukanya benda tersebut, tenyata sebuah kotak yang berisikan cincin yang berlambangkan ‘darah murni’. Dan secarik kertas yang bertuliskan:
Hai kawan? Bagaimana kabar mu? Ku harap kau akan sehat selalu. Aku merindukan mu, padahal baru beberapa waktu sebelumnya aku melihat mu. Kau yakin pada ku kan? Aku akan mencegahnya untuk tidak ada hubungan. Aku tau itu sangat berat untuk ku, tapi kau adalah teman. Aku menyumbangkan nyawa ku untuk cintaku yaa, bukan untuk cinta mu. Tapi, aku punya satu permintaan untuk mu. Jagalah Yuki selalu, kau janji???
“Ya, aku janji Kuroko-chan” air mata Izhuki lagi-lagi menangis dan segera memeluk Yuki dengan erat.
         Sebelum mereka meninggalkan pemakaman, mereka berniat untuk meninggalkan cincinnya untuk Tetsuya.
“Kau akan selalu abadi, karena kau pemilik darah murni terakhir. Arigato” ucap Yuki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjawab Oleh Takdir

InsyaAllah, You're My Future. ♥️